Pages

Jumat, 09 Agustus 2013

Makna Kalimat الرحمنالرحيم

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Monday, 21 January 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian VI
Makna Kalimat الرحمنالرحيم
Senin, 21 Januari 2013


عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : قَالَ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي، شَهَادَةً، فِي سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ مَوْتِي، فِي بَلَدِ رَسُولِكَ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (صحيح البخاري)
Dari Zeyd bin Aslam, dari ayahnya, dari Umar Ra berdoa: “Wahai Allah, berilah aku mati syahid di jalan Mu (SWT), di kota Rasul Mu (SWT) (Madinah kota Nabi) Shallallah alayhi wa sallam” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha membangkitkan jiwa dengan keluhuran, dan tiada hal yang lebih luhur dari keridhaan Allah subhanahu wata’ala, hal itulah yang paling luhur dan hal itu disimpan oleh Allah subhanahu wata’ala pada sosok makhluk yang paling diridhai Allah, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Keridhaan Allah subhanahu wata’ala tersimpan pada setiap budi pekerti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tersimpan pada setiap ucapan-ucapan dan tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kesemua hal itu adalah mutiara ridha Ilahi. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi riwayat Shahih Al Bukhari, dan diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana ketika penduduk surga dikumpulkan dan Allah subhanahu wata’ala bertanya kepada mereka : “Wahai hamba-hambaKu, maukah kalian Kuberi (kenikmatan) lebih dari semua ini?”, maka penduduk surga berkata : “Wahai Allah, kenikmatan apalagi yang melebihi semua ini, Engkau telah mengampuni dosa-dosa kami dan menjauhkan kami dari api neraka, dan Engkau telah memberikan kepada kami limpahan kenikmatan yang abadi, maka apalagi yang melebihi dari semua ini?!”, lalu Allah subhanahu wata’ala menjawab :
أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُم أَبَداً
“Kuhalalkan (Kuberikan) untuk kalian keridhaanKu, dan Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya”
Maka jelaslah bahwa keridahaan Allah subhanahu wata’ala adalah puncak kenikmatan Ilahi yang melebihi segala kenikmatan-kenikmatan di surga, dan hal itu tersimpan pada budi pekerti sayyidina Muhammad rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang terlewati dalam siang dan malam beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam segala hal, yang diantaranya adalah bagaimana adab beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap yang lebih tua, adab beliau terhadap tetangga, kerabat, keluarga, istri, dan anak-anak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, adab beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang yang dalam kesusahan, adab beliau terhadap ahli kitab (yahudi dan nasrani), dan lain sebagainya. Maka tuntunan-tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal-hal tersebut adalah merupakan keridhaan Ilahi, alangkah indahnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan betapa Maha Indahnya Yang menciptakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana jiwa-jiwa para sahabat dan seluruh orang-orang yang mulia yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, yang mana mereka selalu ingin dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik di masa kehidupan mereka di dunia, hingga setelah wafat pun mereka tidak ingin jauh dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana riwayat sayyidina Umar bin Khattab yang kita baca, dimana beliau berdoa dengan mengucapkan :
اَللّهُمَّ ارْزُقْنِيْ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِيْ فِيْ بَلَدِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Wahai Allah, anugerahilah aku mati syahid di jalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri (kota) utusanMu (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
Sayyidina Umar memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar meninggal syahid di jalan Allah subhanahu wata’ala, namun permohonan tersebut diiringi dengan permintaan yang lain yaitu meninggal syahid di negeri (kota) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Madinah Al Munawwarah. Padahal seseorang yang mati syahid dimana pun maka akan tetap tergolong ke dalam kumpulan para syuhada’ (orang-orang yang meninggal syahid) dan merupakan kemuliaan dan keluhuran yang sangat besar, namun karena sayyidina Umar bin Khattab tidak ingin jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik di masa hidup beliau atau setelah beliau wafat, sehingga beliau meomohon kepada Allah untuk diwafatkan di negeri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Allah subhanahu wata’ala mengabulkan doa sayyidina Umar bin Khattab, sehingga beliau tidak hanya wafat di kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi juga dimakamkan berdampingan dengan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam detik-detik akhir kehidupan beliau ketika sakaratul maut, di waktu shalat zhuhur dan dalam riwayat yang lainnya di waktu shalat asar datanglah orang yang akan membunuhnya kemudian langsung menghunuskan pedang ke perut sayyidina Umar bin Khattab, sehingga robeklah perut beliau, dan dalam keadaan demikian lantas beliau meminta susu untuk diminum, sebagaimana hal ini adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sedang sakit dan merasa lemah maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta susu dan meminumnya. Dan hal tersebut dapat kita temui dalam kitab-kitab Syamaail Ar Rasuul shallallahu ‘alaihi wasallam, disana disebutkan bahwa diantara minuman-minuman yang disukai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah susu, air buah-buahan dan air putih. Dan dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai air buah-buahan atau bisa dinamakan jus dalam kehidupan kita di zaman sekarang. Maka sayyidina Umar bin Khattab Ra dalam keadaan perutnya yang telah terbelah beliau meminta susu kemudian meminumnya, akan tetapi susu itu setelah beliau minum maka tumpah keluar dari bekas luka di perutnya, lalu sayyidina Umar bin Khattab merasa bahwa ia dalam keadaan sakaratul maut, maka sayyidina Umar bin Khattab memerintah putranya untuk menemui sayyidah Aisyah Ra, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta izin kepada sayyidah Aisyah apakah beliau mengizinkan sayyidina Umar untuk dimakamkan dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika itu sayyidina Umar Ra berkata kepada putranya untuk menemuia sayyidah Aisyah dan menyampaikan salam kepada beliau dari Umar bin Khattab, dan melarang putranya untuk menyebut dihadapan sayyidah Aisyah dengan sebutan Amir Al mu’minin, karena saat itu beliau menganggap dirinya bukan lagi sebagai amir al mu’minin karena telah mengalami luka yang sangat parah, demikian yang disebutkan dalam riwayat Shahih Al Bukhari. Namun bukan berarti ketika beliau menyandang sebutan sebagai amir al mu’minin hal tersebut membuat beliau bersikap atau merasa sombong atau yang lainnya, namun beliau merasa tidaklah pantas dengan gelar amir al mu’minin untuk beliau ketika keadaan beliau sedang lemah dan sekarat. Maka sayyidina Umar bekata kepada putranya : “Temuilah ummul mu’minin sayyidah Aisyah dan sampaikan kepada beliau bahwa Umar menyampaikan salam kepada beliau dan meminta izin bolehkah ia dimakamkan berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, setelah mendengar kabar tersebut sayyidah Aisyah sedih dan menangis karena sayyidina Umar dalam keadaan sakaratul maut. Maka sayyidah Aisyah pun mengizinkan sayyidina Umar bin Khattab untuk dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun tempat itu sebenarnya sayyidah Aisyah siapkan untuk makam beliau, namun karena amir al mu’minin sayyidina Umar bin Khattab yang meminta maka sayyidah Aisyah mengizinkannya. Kemudian putra sayyidina Umar segera kembali dan telah mendapati ayahnya telah tersengal-sengal dan ia berkata : “Telah diizinkan wahai amir al mu’minin”, maka sayyidina Umar berkata : “Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih aku dambakan daripada agar aku dimakamkan berdekatan dengan makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” . Demikian kuatnya cinta sayyidina Umar bin Khattab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Syarah Kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah Karangan Al Imam Ahmad Bin Zain Al Habsyi
Makna kalimat (باسم الله ) telah kita bahas dalam pertemuan-pertemuan yang lalu. Selanjutnya adalah pembahasan tentang makna ( الرحمن الرحيم ). Sebagaimana dijelaskan jika kalimat ( باسم الله ) tidak dilanjutkan dengan kalimat ( الرحمن الرحيم ) maka alam semesta ini akan hancur dari kewibawaan nama Allah subhanahu wata’ala. Adapun makna ( الرحمن) adalah kenikmatan yang Allah subhanahu wata’ala berikan untuk seluruh makhluknya, dari manusia, hewan dan tumbuhan, manusia yang beriman atau pun yang kafir, manusia yang baik atau pun yang jahat di dunia. Adapun makna kalimat ( الرحيم) adalah kenikmatan dari Allah subhanahu wata’ala yang hanya diberikan kepada hamba-hamba yang beriman saja, seperti kenikmatan sujud, kenikmatan munajat dan doa, kenikmatan shalat berjamaah, kenikmatan shalat di masjid dan lainnya yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala di dunia kemudian di akhirat diberi kenikmatan surga yang kekal dan abadi. Adapun kenikmatan yang diberikan kepada seluruh makhluk Allah dalam kehidupan di dunia seperti melihat, mendengar, berbicara, berjalan dan lainnya hal itu semua diberikan dari sifat Allah subhanahu wata’ala ( الرحمن), yang mana kenikmatan-kenikmatan tersebut Allah subhanahu wata’ala berikan kepada semua makhluknya baik yang taat atau pun yang tidak taat kepada Allah subahanahu wata’ala. Dan kita ketahui diantara kenikmatan-kenikmatan tersebut ada yang Allah cabut dari hamba-hambaNya dengan kehendakNya, seperti seseorang yang Allah jadikan tidak memiliki pendengaran sejak ia lahir, dan ada juga yang sejak lahir mungkin diberi pendengaran oleh Allah namun setelah beberapa tahun ia tidak lagi dapat mendengar, maka hal-hal seperti ini adalah terjadi atas kehendak dari Allah subhanahu wata’ala, demikianlah makna ( الرحمن الرحيم ). Sungguh segala kenikmatan yang pernah ada pada segala ciptaan Allah akan berakhir dan kemudian bersambung dengan kemuliaan kehidupan dan kenikmatan yang abadi yang dikehendaki Allah subhanahu wata’ala tersimpan dalam rahasia kemuliaan makna ( الرحمن الرحيم )., yang mana hal-hal itu pasti akan datang kepada kita semua. Setelah kehidupan dunia ini berakhir, kelak hanya ada 2 tempat yaitu surga dan neraka, tidak ada tempat lain selain keduanya. Yang harus selalu kita fikirkan adalah setelah kita wafat kelak dimanakah tempat kita?!. Renungkanlah, sejak kita bangun dari tidur hingga detik ini, manakah yang lebih banyak antara kita mengingat Allah dan mengingat selain Allah subhanahu wata’ala. Padahal satu detik pun terlewatkan untuk mengingat selain Allah subhanahu wata’ala hal itu telah cukup untuk melemparkan seseorang ke dalam jurang api neraka, bagaimana halnya jika waktu banyak yang terlewatkan untuk mengingat selain Allah subhanahu wata’ala, dan bagaimana halnya jika waktu-waktu terlewatkan tidak pernah mengingat Allah subhanahu wata’ala, wal’iyaadzu billah. Maka seluruh rahasia kemuliaan kenikmatan yang Allah berikan kepada makhluk-makhlukNya terdapat pada kalimat ( الرحمن الرحيم ). Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala memberikan pengampunan kepada hamba-hambaNya yang memohon pengampunan. Sungguh pengampunan Allah subhanahu wata’ala sangat murah dan mudah, hanya siapakah yang menginginkan dan mau meminta pengampunan tersebut. Allah Maha Mengetahui bahwa hamba-hambaNya selalu berbuat kesalahan dan dosa sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi :
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-hambaKu, seseungguhnya kalian selalu berbuat salah (dosa) di siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah pengampunan kepadaKu, Aku akan mengampuni kalian”
Allah Maha Mengetahui akan hamba-hambaNya yang senantiasa berbuat dosa di siang dan malam, namun banyak diantara mereka yang telah berbuat dosa akan tetapi tidak mau meminta pengampunan dari Allah subhanahu wata’ala. Maka rahasia kemuliaan kalimat ( باسم الله الرحمن الرحيم ) , sebagaimana dijelaskan oleh para imam seprti Al Imam At Thabari, Al Imam Ibn Katsir, Al Imam Qurthubi dan imam-imam yang lainnya, bahwa kemuliaan seluruh Al qur’an Al Karim tersimpan pada kalimat ( باسم الله الرحمن الرحيم ), maka kalimat ini menyimpan seluruh makna tuntunan Allah subhanahu wata’ala. Dalam kalimat tersebut tersimpan rahasia kenikmatan Allah subhanahu wata’ala, keagungan Allah subhanahu wata’ala, tuntunan Allah subhanahu wata’ala, perbuatan Allah kepada hamba-hamba yang baik atau hamba-hamba yang tidak baik, segala perintah dan larangan Allah subhanahu wata’ala dan lain sebagainya. Maka sampai disini kita telah selesai dari pembahasan makna ( باسم الله الرحمن الرحيم ). Pembahasan berikutnya kita lanjutkan pada majelis yang akan datang insyaallah.
Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, agar dijauhkan dari kita segala musibah, musibah yang zhahir dan musibah yang bathin. Kita tidak hanya memandang musibah yang zhahir saja, sebab musibah yang zahir juga disebabkan oleh musibah yang bathin yaitu dosa-dosa yang diperbuat, karena dosa-dosa itulah musibah-musibah muncul, maka kita yang telah berbuat dosa-dosa itu maka seakan-akan kita juga telah membuat musibah-musibah itu datang dan menimpa kita. Semoga Allah subhanahu wata’ala memaafkan dan mengampuni seluruh dosa-dosa kita dan semakin mempermudah kita untuk berbuat hal-hal yang luhur serta semakin mempermudah kita untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Dan semoga Allah subhanahu wata’ala segera mengangkat musibah-musibah yang sedang menimpa kita, dan musibah-musibah mendatang yang akan menimpa kita, dan semoga Allah subhanahu wata’ala membimbing kita dalam menghadapi kehidupan kita. Ya Allah kami titipkan kepada namaMu yang terindah seluruh sisa kehidupan kami di masa mendatang di dunia dan akhirat, dan kami titipkan pada samudera pengampunanMu segala dosa-dosa kami, dosa ayah bunda kami, dosa keluarga dan kerabat kami, serta dosa-dosa saudara/i kami muslimin dan muslimat. Wahai Yang Memiliki dunia dan akhirat, kepada siapa kami memohon dan meminta selain kepadaMu. Engkaulah Yang Maha Abadi dan Maha Sempurna.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

zakat


Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian 16
zakat
Senin, 29 Juli 2013



حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa berlemah lembut kepada kita, karena itulah anugerah terbesar dari Allah subhanahu wata’ala untuk kita bisa terus dekat dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga kita terus bersambung dan bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam keadaan tidur atau jaga , kita diberi anugerah untuk memandang cahaya keindahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Memberi akan tetap memberi dan tiada akan pernah berhenti memberi, maka siapakah yang mau meminta ?, Allah subhanahu wata’ala senantiasa siap menumpahkan anugerah untuknya, namun tidak diminta pun Allah subhanahu wata’ala tetap akan memberi, tetap melimpahkan anugerah kepada hamba-hambaNya, akan tetapi tidak seperti anugerahNya kepada orang yang mau meminta kepadaNya, ia akan dilimpahi dengan anugerah yang lebih besar, semoga kita dilimpahi anugerah besar dalam sanubari kita hinga kita selalu mengingat Allah subhanahu wata’ala.
Hadirin yang dimuliakan Allah Kita melanjutkan pembahasan kitab Ar Risalah Al Jami’ah, kita sampai pada pembahasan zakat. Zakat secara bahasa adalah An Namaa’ wa At Tathhiir yaitu tumbuh (berkah) dan penyucian. Adapun zakat menurut syariat adalah nama/sebutan untuk suatu benda (harta) yang dikeluarkan karena sebab harta atau sebab badan dalam jumlah/bentuk tertentu dan diberikan kepada yang berhak menerimanya yang telah ditentukan oleh syariat Islam. Dimana ada 6 macam zakat yang dikeluarkan sebab harta dan 1 zakat untuk badan yaitu zakat fitrah (pembahasan yang lebih luas insyaallah menyusul), adapun zakat profesi yang ada di zaman sekarang maka hal ini tidak ada dalam syariat Islam. Namun jika kita sebut sebagai shadaqah profesi hal ini masih dapat kita toleransi dan tidak kita ingkari, karena shadaqah bukan hal yang wajib, sedangkan zakat adalah sesuatu yang wajib dikerjakan sehingga jika seseorang tidak melaksanakannya maka darahnya halal ; boleh dibunuh. Oleh karena itu zakat semacam ini adalah hal yang diada-adakan oleh kelompok wahabi yang ajaran mereka harus kita waspadai, dimana mereka adalah pengikut Muhammad Ibn Abdul Wahhab yang para gurunya tidak mengakuinya sebagai murid mereka sebab ajaran-ajarannya yang banyak menyimpang dari Syariat Islam, semoga kelompok-kelompok ini segera dihilangkan dari muka bumi dan diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin.
Kita kembali pada pembahasan zakat, jadi zakat yang dikeluarkan ada 2 macam yaitu zakat yang dikeluarkan untuk harta dan yang kedua zakat untuk badan, yang disebut dengan zakat fitrah. Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan zakat harta, terlebih dahulu akan kita bahas tentang zakat fitrah. Dalam hal zakat fitrah menurut pendapat yang terkuat yaitu zakat dikeluarkan berupa bahan pokok setempat, seperti bahan pokok di tempat ini adalah beras, maka zakat yang harus dikeluarkan orang-orang yang tinggal disini adalah beras, sehingga santri-santri Irian yang ada disini mereka harus mengeluarkan zakat berupa beras, meskipun bahan pokok di daerah mereka adalah sagu begitu juga sebaliknya, orang-orang Jawa atau daerah lainnya yang tinggal di Irian maka mereka harus mengeluarkan zakat berupa sagu yang merupakan bahan pokok di daerah tersebut. Akan tetapi ada pendapat yang tidak kuat namun didukung oleh ucapan-ucapan para ulama’ yang mengatakan bahwa zakat fitrah boleh dikeluarkan berupa sesuatu yang lebih dibutuhkan atau disukai oleh orang-orang yang berhak menerima zakat, seperti uang namun beberapa pendapat ulama’ tidak membolehkannya.
Disebutkan dalam sebuah kisah nyata, dimana ada seorang nenek yang tinggal sendiri di rumahnya, suatu hari ada orang yang datang membawa zakat berupa beras, namun si nenek menolaknya dan berkata bahwa ia tidak membutuhkan beras karena ia mempunyai beras tetapi ia lebih membutuhkan uang, namun orang yang memberi zakat tetap ingin mengeluarkan zakatnya berupa beras, kemudian ia mencoba untuk menasihati si nenek dan berkata : “Ibu, untuk zakat yang berupa uang itu nanti yaitu zakat harta bukan zakat fitrah”, si nenek bertanya : “ Kapan zakat itu ?”, orang itu terdiam dan tidak bisa menjawab, hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan umat Islam tidak memperhatikan zakat-zakat yang lain kecuali zakat fitrah. Karena jika setiap orang muslim yang wajib membayar zakat di dunia ini ia melaksanakan kewajibannya, niscaya di bumi tidak akan ada seorang muslim pun yang kelaparan, karena Allah subhanahu wata’ala telah menentukan rizki bagi setiap hamba-hambaNya yang fakir atau miskin dengan zakat-zakat tersebut, namun hal ini dilalaikan oleh ummat Islam, demikianlah makna zakat secara ma’rifah. Sering muncul pertanyaan kalau ingin belajar ilmu ma’rifah dimana?, saya juga bingung untuk menjawabnya, namun dalam majelis ini sering saya sampaikan tentang ma’rifah yang saya ketahui. Perlu difahami ma’rifah adalah ilmu untuk mengenalkan kita dan mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, bisa disebut dengan ilmu hati yang diantara pembahasannya adalah bagaimana menjauhi penyakit-penyakit hati seperti riya’, sombong, iri, dan lainnya. Dimana dalam hal ini secara ringkas penyelesaiannya dengan mendekatkan diri kepada Allah untuk dicintai Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hal itu adalah puncak dari ilmu ma’rifah. Syaikh Ahmad Ba’alawi berkata : “Mereka melihat kami duduk berada diantara mereka, padahal itu bukan kami karena jiwa-jiwa kami berada pada puncak-puncak tertinggi”, maksudnya bahwa hati mereka bersama Allah subhnahu wata’ala.
Adapun waktu pengeluaran zakat fitrah boleh dikeluarkan sejak terbenamnya matahari di awal Ramadhan hingga terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan, dan sunnah dikeluarkan sebelum shalat idul fitri. Jadi zakat wajib dikeluarkan bagi orang yang masih hidup di bulan Ramadhan dan di bulan Syawal, sehingga seorang bayi yang lahir setelah isya’ di akhir bulan Ramadhan maka tidak diwajibkan baginya zakat fitrah, namun disunnahkan untuk membayarnya. Begitu juga orang yang meninggal di akhir bulan Ramadhan sebelum terbenam matahari maka tidak wajib untuk dikeluarkan zakat fitrah baginya namun disunnahkan, karena ia tidak hidup hingga bulan Syawal. Adapun dalam hal infaq/shadaqah maka sebanyak-banyaknyalah berinfak sebagaimana hadits yang kita bahas majelis minggu lalu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan (pemurah) dan lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan. Sifat pemurah tidak hanya dengan harta tetapi bisa dengan selain harta seperti pemurah maaf dan lainnya. Kita fahami betapa pemurahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sifat pemaaf beliau di bulan Ramadhan, terlebih lagi dengan sifat pemaaf Allah subhanahu wata’ala di bulan Ramadhan.
Allah subhanahu wata’ala berfirman :
وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ ( البقرة : 219 )
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan”. ( QS. Al Baqarah : 219 )
Sebagian ulama’ ahli tafsir mengatakan bahwa makna Al ‘Afw adalah shadaqah yang tertinggi derajatnya, kemudian derajat yang lebih rendah lagi adalah pemaaf. Sifat pemaaf sudah pasti disertai dengan sifat pemurah, namun sifat pemurah belum tentu juga pemaaf, sebagaimana sering kita mendengar perkataan orang yang ada permusuhan dengan orang lain : “Meskipun harta aku habis, tetap aku ngga akan maafin dia”. Namun orang yang pemaaf sudah pasti ia adalah pemurah, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita ke dalam golongan mereka, amin allahumma amin. Dalam perhitungan bulan Qamariah (Hijriah), pergantian hari dimulai ketika matahari terbenam, berbeda dengan perhitungan bulan Syamsiah (Masehi) bahwa pergantian hari dimulai pada pertengahan malam sekitar jam 11.30 atau 12.00 malam, namun para ulama’ tidak memilih hal itu karena terkadang waktunya tidak tepat dan lebih tepat menggunakan perhitungan qamariah. Oleh karena itu ketika di zaman sayyidina Umar bin Khattab Ra dimana di masa itulah dimulai perhitungan Hijriah, dan sayyidina Umar menentukan awal bulan adalah bulan Muharram, padahal hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimulai pada bulan Rabi’ Al Awwal dan bukan bulan Muharram, mengapa demikian? , karena perputaran bulan dalam setahun kembalinya pada titik awal adalah di bulan Muharram bukan di bulan Rabi’ul Awal. Maka dalam hal zakat, kita tidak menggunakan perhitungan masehi, namun menggunakan perhitungan Hijriah dimana pergantian hari dimulai dari terbenamnya matahari. Demikian penjelasan tentang zakat fitrah, dan majelis yang akan datang insyallah kita masuk pada pembahasan tentang zakat maal (harta).
Selanjutnya kita mengucapkan beribu syukur kepada Allah subhanahu wata’ala karena acara Haul Ahlu Al Badr dan Nuzulul Qur’an berlangsung sukses Alhamdulillah, dan membuat gembira guru mulia kita yang dengan itu juga membuat gembira guru-guru beliau hingga ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kita tidak akan mengadakan event besar lagi, hingga event kedatangan guru mulia di bulan Muharram di Monas , dan acara malam tahun baru insyaallah. Kita berdoa dan bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala
… فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Rukun Islam yang Kedua, Shalat

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Monday, 22 July 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian 15
Rukun Islam yang Kedua, Shalat
Senin, 22 Juli 2013


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ ( صحيح البخاري )
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah Di malam hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kitab Al Risaalah Al Jaami’ah, yang mana kita telah sampai pada pembahasan tentang rukun Islam yang kedua yaitu shalat, dan insyallah dalam kitab ini akan ada pembahasan yang lebih luas tentang shalat. Namun sebelumnya akan kita bahas masalah penentuan waktu shalat, awal dan berakhirnya waktu shalat serta jumlah bilangan rakaat shalat. Hal ini disebutkan dalam riwayat Shahih Muslim dimana Malaikat Jibril ketika melakukan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan malaikat Jibril menjadi imam untuk mengajari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tata cara shalat, sehingga beliau melakukan shalat dengan jumlah rakaat setiap shalat dan pada waktunya masing-masing. Adapun shalat yang pertama kali dilakukan adalah shalat zhuhur, yang mana awal waktunya adalah ketika matahari tergelincir dari posisi zawal (matahari berada di tengah-tengah) yang berlangsung kira-kira 10 menit.
Dan ketika tiba waktu subuh malaikat Jibril melakukan shalat Subuh dua rakaat di awal waktu subuh, yaitu waktu munculnya cahaya horizontal di langit yang mana cahaya seperti ini dapat kita lihat di tempat yang tidak terhalang oleh sesuatu seperti gunung atau bangunan atau yang lainnya dan dalam keadaan langit tidak mendung atau tertutup awan seperti di padang pasir atau di lapangan,dan cahaya inilah yang disebut juga dengan fajar shadiq. Adapun jika cahaya yang muncul berbentuk vertikal maka ini adalah fajar kadzib, yang mana belum masuk waktu shalat subuh akan tetapi munculnya cahaya itu menandakan masuknya waktu sepertiga malam terakhir, yang di waktu inilah dikumandangkan adzan yang pertama di waktu fajar, yang mana hal ini telah disebutkan dalam riwayat Shahih Al Bukhari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maknanya bahwa ketika sayyidina Abdullah Ibn Umm Maktum mengumandangkan adzan maka ketika itu masih diperbolehkan untuk makan atau minum ( ketika akan berpuasa) hingga sayyidina Bilal bin Rabah yang mengumandangkan adzan. Dan setelah beberapa waktu cahaya vertikal itu akan menghilang dan langit kembali menjadi gelap, dan kemudian akan muncul cahaya horizontal (fajar shadiq) dan itulah awal waktu shalat subuh, yang selanjutnya secara perlahan akan muncul cahaya matahari.
Adapun dalam pembahasan ilmu fiqh tiada perbedaan antara perkataan subuh dan fajar, keduanya adalah hal yang sama, jadi ketika seseorang akan melakukan shalat subuh maka ia bisa berniat dengan mengucapkan “Ushalli fardah As Shubhi” atau “Ushalli fardha Al Fajri”, atau jika ingin melakukan shalat sunnah qabliah maka ia boleh berniat dengan mengucapkan “Ushalli sunnata As Subhi” atau “Ushalli sunnata Al Fajri”. Kemudian malaikat Jibril melakukan shalat Asar 4 rakaat yang awal waktunya dimulai ketika berakhirnya waktu zhuhur yaitu dimana bayangan suatu benda sama dengan benda tersebut dan lewat sedikit dari waktu tersebut maka telah masuk awal waktu shalat Asar, dan ketika matahari mulai terbenam malaikat Jibril melakukan shalat Maghrib 3 rakaat, dan ketika matahari telah terbenam dengan sempurna dan keadaan telah gelap gulita maka ketika itu telah masuk waktu shalat Isya’, dan malaikat Jibril berkata kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa itu adalah awal waktu shalat Isya’ kemudian ia melakukan shalat Isya’ 4 rakaat. Kemudian di hari yang kedua malaikat Jibril kembali mengajarkan shalat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di akhir waktu, dimana akhir waktu subuh adalah waktu isyraq yaitu ketika cahaya matahari hampir terlihat, yang mana untuk wilayah di Indonesia waktu isyraq kurang lebih 1 jam 50 menit setelah adzan subuh, itu adalah berakhirnya waktu shalat Subuh. Kemudian malaikat Jibril melakukan shalat zhuhur di akhir waktunya, yaitu ketika bayangan suatu benda sama dengan benda tersebut. Selanjutnya malaikat Jibril melakukan shalat Asar di akhir waktu Asar, yaitu ketika matahari terbenam, lalu malaikat Jibril melakukan shalat Maghrib di akhir waktu Maghrib, dan kemudian beliau melakukan shalat Isya’ di akhir waktu Isya’ yaitu ketika akan munculnya fajar shadiq. Selanjutnya malaikat Jibril berkata kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Diantara kedua (waktu) ini wahai Muhammad”, yaitu awal dan akhir waktu dalam melakukan shalat 5 waktu.
Pembahasan selanjutnya dalam kitab Ar Risalah Al Jami’ah disebutkan : وَإِيْتَاء الزَّكَاةِ “Menunaikan zakat” Adapun makna Az Zakaah secara bahasa adalah An Namaa’ atau At Thahaarah , yaitu berkembang/bertambah atau penyucian. Adapun makna zakat secara Syariat adalah mengeluarkan sebagian harta tertentu untuk orang-orang yang berhak untuk menerimanya. Namun terlebih dahulu kita kembali pada riwayat sayyidina Abdullah ibn Abbas yang kit abaca, disebutkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah imam ahlu al qur’an, imam ahlu ramadhan, imam ahlu al as shiyam wa al qiyam, imam ahlu badr, imam ahlu Fathu Makkah, Imam Al Haramain ; Makkah dan Madinah, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan, maka ketika bulan Ramadhan jangan hanya mengeluarkan zakat fitrah yang wajib saja, akan tetapi perbanyaklah berinfak untuk para fakir miskin, anak-anak yatim, untuk kemaslahatan kaum muslimin dan lainnya, dan tentunya shadaqah hal yang paling mulia adalah membantu dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,dan seakan-akan kita memberi hadiah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau tidak menerima shadaqah.
Maka tingkatkanlah kedermawanan kita di bulan Ramadhan, sehingga macam-macam zakat yang lainnya bisa dikeluarkan di bulan Ramadhan, seperti zakat tambang, zakat buah-buahan, zakat binatang, zakat harta dan lainnya yang insyallah dalam kitab ini akan ada penjelasan lebih luas tentang hal tersebut, namun satu hal yang merupakan suatu kebathilan adalah adanya zakat profesi yang dikeluarkan setiap bulan, karena hal tersebut tidak ada dalam syariat Islam, dan itulah yang termasuk dalam bid’ah dhalalah (suatu baru yang menyesatkan). Namun jika hal tersebut dianggap sebagai shadaqah dari profesi maka hal itu boleh-boleh saja, akan tetapi jika disebut sebagai zakat maka hal itu adalah bathil, karena zakat merupakan suatu yang wajib sehingga seseorang yang berkewajiban untuk membayar zakat kemudian tidak menunaikannya maka ia halal darahnya (boleh dibunuh) dan jenis-jenis zakat telah ditentukan dalam syariat maka tidak boleh ditambah dengan suatu yang baru ynag tidak ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti zakat profesi, dimana hal ini hanya diperbuat oleh Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan di masa khilafahnya, dimana ia mengeluarkan sebagian dari dana yang beliau diterima setiap bulannya karena untuk berhati-hati atau khawatir jika ia wafat dan belum mengeluarkan zakat untuk hartanya sehingga hal ini merupakan sebagai shadaqah dan hal itu beliau wajibkan untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain, karena jika khalifah Mu’awiyah mewajibkannya untuk semua orang pastilah beliau akan memerintahkan kepada semua orang untuk mengeluarkannya, namun hal itu tidak beliau perbua, maka hal ini jangan kita berlakukan untuk semua orang sehingga menjadi zakat yang wajib untuk ditunaikan. Selanjutnya dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan terlebih lagi di bulan Ramadhan ketika dijumpai oleh malaikat Jibril dalam setiap malamnya di bulan Ramadhan untuk tadarus Al qur’an, hal ini merupakan paduan dari dua makna yang pertama adalah kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan makna kedua bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap malam bulan Ramadhan mengulang-ulang Al qur’an bersama malaikat Jibril As, sehingga hal ini (memperbanyak membaca Al qur’an) merupakan salah satu amal yang sangat mulia di bulan Ramadhan. Al Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa membaca Al qur’an bisa dengan cepat mendatangkan sakinah (ketenangan) dan memberikan kedekatan kepada Allah subhanahu wata’ala, kemudian salah satu murid beliau bertanya apakah membacanya dengan disertai pemahaman atau tidak?, maka Al Imam Ahmad menjawab : “Dengan disertai kefahaman atau tidak”. Maka di bulan Ramadhan ini perbanyaklah membaca Al qur’an baik dengan membaca sendiri atau membaca bersama-sama, namun yang paling utama adalah dengan membca bersama-sama karena dengan hal ini seseorang akan mendapatkan pahala sebagai pembaca (pelajar), pendengar dan pengajar Al qur’an dalam satu waktu. Kemudian disebutkan dalam riwayat di atas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang lebih dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus, maksudnya begitu cepat dan mudah dalam melakukan segala kebaikan, sehingga disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maknanya jika seseorang wafat dan ia mempunyai harta waris maka bagikanlah harta waris itu kepada ahl warisnya, namun jika ia mempunyai hutang dan tidak mampu untuk membayarnya maka datanglah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau lah yang akan membayar hutang itu.
Adapun dalam masalah zakat yaitu yang berkaitan dengan zakat fitrah, muncul banyak pertanyaan tentang bolehkah membayar zakat fitrah dengan bentuk uang?, dalam hal ini ada ulama’ dalam madzhab Syafi’i yang membolehkan hal itu, namun menurut pendapat yang lebih kuat adalah tidak boleh membayar zakat fitrah dengan uang namun harus dengan bahan pokok di wilayah tersebut, seperti di wilayah kita bahan pokoknya adalah beras, adapun di wilayah Papua bahan pokok disana adalah sagu, namun jika penduduk Papua berdomisili di tempat ini maka ia harus mengeluarkan zakat dengan beras bukan dengan sagu, begitu juga jika penduduk di wilayah ini tinggal di Papua maka ia harus mengeluarkan zakat dengan sagu bukan dengan beras. Hadirin yang dimuliakan Allah Kita fahami bahwa malam-malam di bulan Ramadhan ini adalah malam-malam yang mulia. Di suatu malam yang senyap dan sepi ketika semua orang tertidur, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berkhalwat di gua Hira’, ketika itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh malaikat Jibril As dan berkata : “Iqra’ : Bacalah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ Maa ana biqaari : saya tidak bisa membaca ”, namun sebenarnya bukanlah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa membaca tetapi beliau tidak butuh untuk membaca, sebagaimana jenis-jenis bakteri atau virus yang ada di sayap seekor lalat hal itu telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita jika seekor lalat masuk ke dalam minuman maka tenggelamkanlah lalat itu ke dalam minuman tersebut karena di salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan di satu sayap yang lainnya terdapat pengobatnya. Dan di zaman sekarang mulai ada penemuan bahwa virus yang ada dalam salah satu sayap seekor lalat itu sangat sulit untuk diatasi pengobatannya, dan zat yang ada di salah satu sayap lalat itulah yang paling ampuh dan cepat untuk mengatasi pengobatan virus yang ada di satu sayap lalat itu.
Sehingga di malam itu ketika malaikat Jibril mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di gua Hira’ turunlah wahyu pertama kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu surat Al ‘Alaq ayat 1-5 demikian kesepakatan pendapat para ulama’ , namun pendapat yang lain menyebutkan bahwa wahyu yang pertama turun adalah Surat Al Muzzammil, dan sebagian pendapat yang lain mengatakan bahwa yang pertama turun adalah surat Al Muddatssir, namun pendapat yang terkuat bahwa wahyu yang pertama kali turun adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5. Maka setelah peristiwa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi merasa risau dan kebingungan, apa yang telah terjadi dengan beliau shalallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dan berkata kepada istri beliau sayyidah Khadijah Ra : “Zammiluuni, zammiluuni : selimuti aku, selimuti aku”, aku khawatir atas diriku”, maka sayyidah Khadijah Ra yang melihat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam risau dan bingung, ia menenangkan beliau dengan berkata : “ Demi Allah, sungguh Allah subhanahu wata’ala tidak akan menghinakanmu wahai Muhammad, engkau adalah orang yang (suka) menyambung tali silaturrahmi, engkau adalah orang yang sangat dermawan, engkau adalah orang yang menjaga amanah, engkau tidak memiliki musuh, dan engkau tidak pernah melakukan perbuatan jahat, maka hal ini tentulah kemuliaan untukmu”, kemudian sayyidah Khadijah Ra membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Waraqh bin Naufal salah seorang Rahib (pendeta) yang berasal dari keluarga sayyidah Khadijah Ra, yang mana lelaki itu sudah sangat tua sehingga ia telah buta namun ia masih dapat mendengar.
Maka sayyidah Khadijah ra menceritakan kepada lelaki tersebut tentang hal yang telah terjadi pada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudia lelaki itu berkata : “Ini adalah Naamus (Jibril As) yang turun kepada Musa As, dan jika semua hal yang engkau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) katakana adalah benar maka engkau adalah nabi akhir zaman, dan seandainya aku masih hidup di saat engkau menjadi nabi maka aku akan berhijrah bersamamu di saat engkau diusir oleh kaummu karena perjuangan dakwahmu”, dan hal itu pun sungguh terjadi pada tahun ke-10 setelah kenabian yaitu 3 tahun sebelum hijrah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau hijrah ke Madinah pada tahun ke-13 setelah kenabian, dan sejak itulah dimulai perhitungan tahun Hijriah. Maka turunlah Al qur’an di bulan Ramadhan, dan Allah subhanahu wata’ala memilih bulan Ramadhan sebagai waktu turunnya Al qur’an adalah sebagai tanda bahwa bulan Ramadhan adalah sayyid as syuhuur (pemimpin semua bulan).
Kemudian malam Jum’at yang akan datang yaitu Haul Ahlu Badr, insyallah kita akan mendengarkan sambutan dari satu atau dua Kiyai yaitu KH. Salim Na’i dan KH. Salman Yahya. Acara kita akan dimulai setelah acara di Luar Batang jadi tidak ada benturan waktu antara keduanya hanya diadakan di malam yang sama namun waktu yang berbeda. Dan insyallah kita akan mendengarkan sambutan langsung dari guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Hafizh, dan beliau telah bersedia untuk memberikan sambutan dan saya akan menyampaikan terjemahannya, kemudian pembacaan dzikir Yaa Allah 1000 x, kita berdoa dan bermunajat di malam mulia, malam turunnya Al qur’an, malam Jum’at, malam haul ahlu Badr ; dan kita juga akan membaca nama-nama ahlu Badr, dan juga memperingati Fath Makkah dimana sebagian ulama’ mengatakan bahwa kejadiannya di bulan setengah terakhir bulan Ramadhan namun tanggal yang pastinya tidak diketahui, akan tetapi ada pendapat yang mengatakan kejadian Fath Makkah di bulan Syawwal, namun pendapat yang terkuat adalah di bulan Ramadhan. Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kekuatan bagi kita semua untuk beribadah di bulan yang mulia ini, untuk menjauhi hal-hal yang tidak disukai oleh Allah subhanahu wata’ala yaitu perbuatan-perbuatan dosa, dan memperbanyak perbuatan-perbuatan luhur terutama membaca Al qur’an dan qiyamul lail di malam-malam Ramadhan, dan bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...
لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Rukun Islam yang Kedua, Shalat

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Monday, 15 July 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian 14
Rukun Islam yang Kedua, Shalat
Senin, 15 Juli 2013


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ اْلأنْبِيَاءِ قَبْلِي : نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ ، وَجُعِلَتْ لِي الأرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّة وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَة (صحيح البخاري)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah Pembahasan kita dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah malam ini adalah tentang rukun Islam yang kedua yaitu shalat. Diman pembahasan mengenai shalat sangat panjang dan akan kita bahas selanjutnya pada majelis-majelis yang akan datang, namun sekarang ini akan kita bahas secara singkat. Disebutkan dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah :
أَرْكَانُ الْإِسْلاَمِ خَمْسَةٌ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ
Yang secara bahasa kalimat Iqaam As Shalaah berarti “mendirikan shalat”, namun dalam bahasa arab maksud dari kalimat tersebut adalah menunaikan atau melakukan shalat secara istiqamah. Adapun pengertian As Shalaah secara umum adalah Ad Du’aa bi al khair yaitu doa dengan kebaikan. Sedangkan pengertian As Shalaah dalam istilah syariat adalah :
أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مُفْتَتِحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ مُخْتَتِمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ
“ Perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam” Maka layak kita untuk memahami makna shalat agar dalam menjalankannya kita merasa lebih khusyu’. Disebutkan bahwa shalat adalah sebagian besar merupakan perbuatan dan ucapan baik yang zhahir atau bathin. Perbuatan atau ucapan yang zhahir seperti ruku’, sujud, berdiri, duduk, mengucapkan takbir, mengucapkan tasbih dan lainnya, adapun secara bathin adalah bahwa hati bersujud kepada Allah subhanahu wata’ala, ruh berhadapan dengan Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat air ludah di dalam masjid di arah kiblat, dimana ketika itu lantai atau tembok masjid masih terbuat dari tanah, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فيِ صَلاَتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلاَ يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ فِي قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ
“ Sesungguhnya salah seorang kalian ketika bediri melakukan shalat, maka sungguh ia sedang bermunajat (berbicara) dengan Allah, maka janganlah seorang dari kalian meludah di arah kiblat tetapi (meludahlah) di sebelah kiri atau dibawah kakinya” Sehingga jika seseorang memang terdesak untuk meludah dan ia sedang melakukan shalat, maka meludahlah ke arah kiri atau dibawah kaki, dan jangan meludah ke arah depan atau arah kiblat karena ia sedang berhadapan dan berbicara dengan Allah. Dan hal ini dikuatkan riwayat Shahih Muslim ketika Allah subhanahu wata’ala menjawab semua ayat dari awal surat Al fatihah yang dibaca seseorang ketika shalat, dengan jawaban :
حَمِدَنِي عَبْدِي ، أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي ، مَجَّدَنِي عَبْدِي
“ HambaKu memujiKu, hambaKu menyanjungKu, hambaKu mengagungkanKu” dan ketika sampai pada ayat :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (الفاتحة : 5-7 )
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” ( QS Al Fatihah : 5-7 ) Allah subahanahu wata’ala menjawab :
هَذَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
“ (Doa) ini adalah untuk hambaKu dan bagi hambaKu apa yang ia minta” Tiadalah harapan yang lebih indah dan lebih mulia dari doa yang telah diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al Fatihah ini, yaitu doa untuk dilimpahi kenikmatan dalam kehidupan sebagaimana kehidupan orang-orang yang diberi kenikmatan dan diridhai Allah subhanahu wata’ala serta dijauhkan dari golongan orang-orang yang sesat dan dimurkai Allah subhanahu wata’ala. Maka bagaimana Allah subhanahu wata’ala tidak akan menjawab doa tersebut karena Allah Yang telah mengajarkannya kepada hambaNya. Hal yang kita minta semoga Allah melimpahkan kenikmatan untuk kita di dunia dalam keadaan kita diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala, tentunya kenikmatan yang paling mulia adalah kenikmatan di akhirat, dan hal itu telah lebih dulu diisyaratkan dalam awal surat Al Fatihah, firman Allah subhanahu wata’ala :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” Kalimat Ar Rahman bermakna bahwa Allah subhanahu wata’ala memberi kenikmatan kepada hambaNya di dunia baik ia seorang yang beriman atau kafir, adapun Ar Rahiim bermakna bahwa Allah subhanahu wata’ala memberi kenikmatan di akhirat yang dikhususkan untuk hamba-hambaNya yang beriman. Maka orang-orang yang tidak beriman pun diberi kenikmatan oleh Allah di dunia, karena hinanya kenikmatan dunia itu di sisi Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“ Jika seandainya (kenikmatan) dunia sebanding dengan sayap seekor nyamuk di sisi Allah, niscaya Allah tidak akan memberi bagian darinya meskipun seteguk air” Namun demikian seorang yang beriman masih mengharapkan dan menginginkan kenikmatan dunia tersebut, karena jika seseorang selama di dunia ia terus menerus berada dalam musibah, maka dikhawatirkan imannya akan pupus, oleh sebab itu Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNya sebagaimana yang diajarkan dalam surat Al Fatihah, dan jika Allah subhanahu wata’ala telah menjawab doa tersebut maka terselaikanlah semua urusan di dunia, hingga kita wafat berada dalam limpahan kenikmatan dengan izin Allah subhanahu wata’ala. Namun hal yang sangat disayangkan adalah di saat kita melakukan shalat dan membaca surat Al Fatihah fikiran kita terbang kemana-mana dan tidak khusyu’ dalam membacanya. Maka makna shalat secara istilah syariat adalah perbuatan dan ucapan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, demikian makna shalat untuk Allah subhanahu wata’ala. Adapun shalat untuk selain Allah secara umum memiliki arti doa dengan kebaikan. Sebagaimana bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengucapkan :
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
“ Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada sayyidina Muhammad” Kita semua mengetahui bahwa shalat hukumnya fardhu ‘ain yaitu wajib dikerjakan bagi setiap muslim yang berakal dan telah mencapai usia baligh, sehingga merupakan dosa besar jika ditinggalkan kecuali disebabkan adanya uzur syar’i (halangan), yang dalam kitab ini terdapat 4 hal yaitu tidur, lupa, jama’ (menggabungkan dua shalat dalam satu waktu”, dan ikrah (paksaan).
Maka jika ada salah satu dari 4 hal tersebut maka seseorang boleh meninggalkan shalat namun harus diqadha’ (diganti). Yang pertama uzur karena tidur, maka seseorang yang tertidur ia tidak wajib melakukan shalat dalam tidurnya, sehingga setelah ia bangun dari tidurnya, ia mendapati waktu shalat telah habis maka ia wajib mengqadha’ shalat tersebut, seperti juga halnya orang yang hilang akal (gila) maka dalam keadaan itu ia tidak wajib mengerjakan shalat. Adapun uzur yang kedua adalah karena lupa, namun lupa disini terbagi menjadi dua, yaitu jika seseorang lupa melakukan shalat karena disibukkan dengan kesibukan akhirat atau sesuatu karena Allah subhanahu wata’ala, seperti berdakwah dan lainnya maka ia wajib mengqadha’ shalat dan tanpa mendapatkan dosa, adapun seseorang yang lupa melakukan shalat disebabkan selain dari hal-hal tersebut seperti nonton tv dan lainnya maka ia wajib mengqadha’ dan ia juga mendapatkan dosa. Adapun uzur yang ketiga adalah karena jama’ (mengumpulkan 2 shalat dalam satu waktu) dalam perjalanan baik taqdim atau ta’khir.
Adapun shalat yang dapat dijama’ adalah zhuhur dan asar, serta maghrib dan isya’, dan terdapat 4 macam yaitu melakukan shalat zhuhur dan asar jama’ taqdim (kedua shalat tersebut dilakukan di waktu zhuhur) atau jama’ ta’khir (kedua shalat tersebut dilakukan di waktu asar), dan melakukan shalat maghrib dan isya’ jama’ taqdim (kedua shalat tersebut dilakukan di waktu maghrib), atau jama’ ta’khir (kedua shalat tersebut dilakukan di waktu isya’). Maka seseorang yang memilikia uzur kemudian ia menjama’ (mengumpulkan) dua shalat dalam satu waktu, misalnya ia melakukan shalat zhuhur dan asar dengan jama’ taqdim maka ia akan mengerjakan kedua shalata tersebut di waktu shalat zhuhur, sehingga di waktu asar ia tidak lagi melakukan shalat asar, maka jama’ merupakan salah satu uzur daripada shalat boleh ditinggalkan. Dan uzur yang keempat adalah karena ikraah ; paksaan untuk meninggalkan shalat , misalnya jika seseorang melakukan shalat maka ia akan dibunuh, maka dalam keadaan seperti ini terdapat pilihan untuk orang tersebut dan jika ia memilih untuk meninggalkan shalat maka hal tersebut diperbolehkan baginya dan ia wajib mengqadha’nya, dan ia pun boleh memilih untuk tetap melakukan shalat meskipun harus dibunuh, dan jika ia terbunuh maka ia telah mati syahid sebab ia meninggal karena membela shalat. Demikian penjelasan ringkas tentang uzur-uzur dari meninggalkan shalat.
Hadirin yang dimuliakan Allah Selanjutnya kita beralih pada penjelasan makna hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah kita baca, hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi oleh Allah subhanahu wata’ala 5 hal yang mana tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,
pertama Allah memberi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ketakutan para musuh dari jarak satu bulan, yaitu para musuh merasa takut dan gentar terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun beliau masih berada di jarak yang sangat jauh.
Kedua, Allah menjadikan semua permukaan bumi suci dan boleh digunakan untuk melakukan shalat kecuali tempat-tempat yang najis maka dimanapun seseorang telah mendapati telah masuk waktu shalat maka lakukanlah shalat.
Ketiga, Allah subhanahu wata’ala menghalalkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi dan ummatnya untuk mengambil ghanimah, yaitu harta rampasan perang seperti pedang-pedang, perisai dan lainnya, dimana dahulu ketika orang-orang akan pergi berperang maka mereka membawa semua harta dan barang-barang berharga yang mereka miliki sebagai penyemangat agar mereka berusaha untuk menang, karena jika mereka kalah maka harta-harta mereka pun akan hilang.
Keempat, bahwa setiap nabi terdahulu diutus kepada ummatnya saja, sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk semua manusia, dan kelima beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diberi hak syafaat oleh Allah subhanahu wata’ala.
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa kelak ketika shiraat ; jembatan dibentangkan diantara gelombang api neraka jahannam, maka yang pertama kali akan melintasinya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ummatnya, dan di saat itu kail-kail besi yang berasal dari neraka jahannam akan mengait para pendosa untuk dilemparkan dan masuk ke jurang api neraka hingga mereka dimaafkan oleh Allah subhanahu wata’ala, jika Allah memaafkan mereka maka Allah akan memberikan cahaya syafaat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberi syafaat kepada mereka, satu-satunya makhluk yang diberi hak syafat oleh Allah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka bagaimana kelak keadaan orang-orang yang membenci kata-kata sayyidina untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?!, di saat itu siapakah yang akan menjadi sayyid (pemimpin) mereka?!, dimana makna sayyid adalah pemimpin, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
“ Aku adalah sayyid (pemimpin) keturunan anak Adam” Bahkan beliaulah yang menamkan dirinya sebagai sayyid, maka kelak di akhirat dalam keadaan yang sangat dahsyat kemana mereka berlindung dan siapa yang akan mereka jadikan pemimpin, sebab ketika di dunia mereka tidak rela menjadikan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sayyid (pemimpin), semoga kelompok-kelompok itu segera diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala. Demikian pembahasan tentang shalat dalam kitab Ar Risalah Al Jami’ah dan penjelasan ringkas dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dembahasan selanjutnya tentang bab zakat akan kita bahas pada majelis yang akan datang, insyaallah. Selanjutnya ada pertanyaan muncul dari sebagian orang yang belum faham mengenai waktu shalat, mereka berkata : “Darimana dasar atau dalil akan adanya batasan-batasan waktu shalat, sedangkan hal demikian tidak ada di dalam Al qur’an?”, Hal ini akan saya jawab dengan hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dimana ketika malaikat Jibril melakukan shalat dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan malaikat Jibril menjadi imam untuk mengajari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam cara melakukan. Maka malaikat Jibril mulai melakukan shalat subuh di awal waktu, kemudian di hari kedua malaikat Jibril melakukan shalat Subuh di akhir waktu, demikian juga yang diperbuat malaikat Jibril dengan waktu shalat yang lainnya. Dan pembahasan selebihnya kita lanjutkan pada majelis yang akan datang insyaallah.
Selanjutnya yang ingin saya sampaikan kepada para Jama’ah yang di wilayah Cakung untuk berjuang lebih kuat lagi, Insyaallah saya siap untuk selalu hadir di setiap undangan majelis. Dan saya mohon beribu maaf terhadap majelis-majelis yang tidak sempat saya hadiri, namun kedepan saya akan berusaha untuk selalu menghadiri majelis dan Alhamdulilah kesehatan saya sudah memungkinkan untuk menghadiri semua majelis, insyaallah.
Al Imam An Nawawi berkata dalam menukil hadits qudsi bahwa setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat, maka ketika kita hadir di satu majelis seperti halnya kita menghadiri 700 majelis, namun sayangnya jadwal Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan puasa justru semakin berkurang, terlebih lagi 3 atau 4 hari sebelum lebaran. Maka untuk wilayah Cakung lebih giat dan semangat lagi, karena wilayah Cakung dulu merupakan pusat jamaah MR, dimana yang mengeluarkan fatwa disana ia adalah salah satu murid saya yang dulu saya sempat mengisi kajian rutin disana, maka saya memberinya peringatan dengan surat-surat dan fatwa-fatwa guru mulia agar ia merujuk kesana, bukan merujuk kepada orang-orang yang anti maulid (kaum wahabi). Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebahagiaan kepada kita semua, dan semoga semua kita yang hadir di majelis ini tidak bangkit dan berdiri kecuali telah suci dari dosa seperti bayi yang baru lahir, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Makna Kalimat وَصَلَّى الل

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Monday, 18 February 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian X
Makna Kalimat وَصَلَّى اللهُ
Senin, 18 Febuari 2013


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا (رواه مسلم)
“ Dari Abi Hurairah Ra, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali ”. ( HR. Muslim )
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Tunggal dengan keabadian , Tunggal dengan kesempurnaan, Maha Tunggal menciptakan kerajaan alam semesta dan menghamparkannya dari tiada, Yang Maha memunculkan keluhuran-keluhuran bagi hamba-hambaNya di dunia dan di akhirat, keluhuran dunia yang fana dan keluhuran akhirat yang abadi, dan semua ciptaan Allah telah diisi dengan segala kenikmatan. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala menciptakan air maka Allah simpan sedemikian banyak kenikmatan pada air itu, diantaranya air tersebut sebagai penghilang haus dan dahaga, sebagai pencuci dan pensuci (bersuci), sebagai tempat kehidupan hewan-hewan air, sebagai pemandangan yang indah dan lain sebagainya dari manfaat-manfaat yang Allah ciptakan dalam air tersebut. Demikian pula Allah subhanahu wata’ala menciptakan api, diantara manfaat api adalah untuk memasak, memanaskan, menghangatkan, dan lain sebagainya dari hal-hal yang bermanfaat dari penggunaan api tersebut.
Kemudian Allah subhanahu wata’ala menciptakan tanah dan menumbuhkan bermacam-macam tumbuhan di atasnya yang menghasilkan berbagai macam buah-buahan yang mana memiliki manfaat yang berbeda-beda, menumbuhkan sayur-sayuran dan pepohoan yang dapt digunakan uga untuk berteduh dan lainnya. Lalu Allah subhanahu wata’ala menciptkan hewan-hewan yang memiliki manfaat yang bermacam-macam, sehingga terkadang ada hewan yang nampaknya tidak bermanfaat namun kenyataannya justru hewan tersebut membawa manfaat yang besar, sebagaimana yang kita ketahui bahwa cairan yang paling manis adalah madu padahal asal mula madu adalah dikeluarkan oleh serangga, begitu juga kain yang paling bagus dan paling mahala dalah sutera padahal asal mulanya terbuat dari ulat, adapun minyak wangi yang paling mahal adalah misk padahal asal mulanya berasal dari bagian darah kijang, demikian banyak hal-hal yang berharga dan dimuliakan di muka bumi ini ternyata berasal dari hal-hal yang hina.
Dan Allah subhanahu wata’ala juga menjadikan dalam ciptaan-ciptaanNya itu terdapat mudharat (bahaya), seperti air yang dapat membawa musibah, bakteri , penyakit dan lain sebagainya, begitu juga pada ciptaan yang lainnya seperti api, tanah, gunung-gunung, pepohonan, udara, kesemua ciptaan itu dapat juga membawa musibah selain juga membawa manfaat. Kemudian Allah subhanahu wata’ala mengutus sang Rahmatan Lil’alamin, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa rahmat bagi sekalian alam semesta, yang kemudian Allah menjadikan banyak hal yang tadinya akan membawa musibah dari ciptaan-ciptaan Allah subhnahu wata’ala, berubah menjadi membawa manfaat. Sehingga hanya dengan dzikir-dzikir yang sepertinya sangat remeh dan tidak berartipun hal itu justru dapat menghindatkan seseorang dari musibah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa seorang sahabat mengadu bahwa ia telah tersengat kalajengking, maka Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam berkata : “ Jika engkau membaca doa :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“ Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang mulia dan sempurna dari kejelekan yang diciptakan”
Sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali sore hari, maka sungguh engkau tidak akan ditimpa bahaya apa pun. Demikian rahasia kemuliaan dari tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya hadits riwayat Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ( رواه مسلم )
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali”. ( HR. Muslim)
Adapun shalawat Allah kepada hamba-hambaNya adalah bahwa Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Sedangkan shalawat dari malaikat adalah bahwa malaikat memohonkan pengampunan dosa-dosa untuk hamba kepada Allah subhanahu wata’ala. Adapun shalawat dari manusia adalah berupa doa dan munajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar menambahkan kemuliaan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala. Maka dari hadits tersebut terbukalah rahasia keagungan cinta Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( الأحزاب : 56 )
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang bershalawat kepadanya sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya (melimpahkan rahmat) sepuluh kali. Sungguh ribuan shalawat dari kita tidak berarti dibanding dengan shalawat Allah, bahkan jika seluruh alam semesta ini bershalawat maka hal itu tidak akan menyamai satu shalawat dari Allah subhanahu wata’ala. Dan disini Allah subhanahu wata’ala akan bershalawat sepuluh kali untuk orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam satu kali. Hal ini menunjukkan sungguh besarnya sambutan Allah subhanahu wata’ala kepada yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, satu kali cinta seseorang kepada sang nabi maka Allah jawab dengan sepuluh kali cinta dari Allah subhanahu wata’ala. Jadi mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah perbuatan yang kultus atau syirik, namun mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan anugerah besar dan akan berlanjut dari hal itu limpahan anugerah yang lebih besar dari Allah subhnahu wata’ala di dunia dan di akhirat.
Selanjutnya kita membahas kitab Ar Risalah Al Jami’ah karangan Al Imam Ahmad bin Zen Al Habsyi Ar, dan kita telah selesai dari pembahasan kalimat :
اَلْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
Di malam ini kita akan membahas kalimat وَصَلَّى اللهُ “Washalla Allahu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“ Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat untuknya sepuluh kali, dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan (dosa), dan ditinggikan baginya sepuluh derajat”.
Adapun yang dimaksud dengan ditinggikan sepuluh derajat adalah didekatkan kepada Allah subhanahu wata’ala sepuluh kali lebih dekat dari keadaan sebelumnya, maka seandainya seseorang yang hidup di saat ini ia bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam satu kali, maka Allah akan mendapatkan sepuluh kali shalawat dari Allah subhanahu wata’ala, dan dihapuskan darinya sepuluh dosa, serta ia terangkat sepuluh derajat lebih dekat kepada Allah subhanahu wata’ala, sungguh betapa beruntungnya orang yang cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, betapa mulianya perkumpulan shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka setelah bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pilihlah doa yang ingin diminta dan dipanjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala karena orang tersebut telah terangkat sepuluh derajat lebih tinggi, dan telah berjatuhan darinya sepuluh dosa, sehingga ketika itu ia berada lebih dekat pada pintu terkabulnya doa-doa, demikian agungnya kemuliaan satu shalawat. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan teriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabiir oleh Al Imam At Thabrani:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ عَشْرًا بِهَا مَلَكٌ مُوَكَّلٌ بِهَا حَتَّى يُبْلِغْنِيهَا
“ Barangsiapa bershalawat kepadaku, Allah bershalawat dan bersalam kepadanya sepuluh, dan shalawat itu ada malaikat yang membawanya hingga menyampaikannya kepadaku”
Dalam hadits ini ditambahkan bahwa Allah subhanahu wata’ala juga memberi salam kepada yang bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seseorang jika mendengar bahwa pak RW kirim salam kepadanya maka ia sangat gembira, terlebih lagi jika ia adalah lurah, bupati, gubernur, atau presiden dan terlebih lagi jika yang bersalam adalah Rabbul ‘alamin subhanahu wata’ala karena seseorang telah bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beruntunglah orang-orang yang duduk dalam perkumpulan yang terang benderang dengan shalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Kahil :
ياَ أَبَا كَاهِل أَنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ لَيْلَةٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حُبًّا بِيْ وَشَوْقًا إِلَيَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ ذُنُوْبَهُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَذَلِكَ الْيَوْم.
“Wahai Aba Kahin, seseungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku di setiap siang hari 3 kali dan setiap malam 3 kali dengan penuh kecintaan kepadaku dan kerinduan kepadaku, sungguh Allah akan mengampuni dosa-dosanya di malam itu dan di hari itu”
Para pecinta dan yang rindu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam maka Allah subhanahu wata’ala akan menghapus dosa-dosanya di malam dan di siang itu, yaitu dengan shalawat yang dipenuhi cinta dan rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sayyidina Anas bin Malik berkata teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari :
مَا رَأَيْنَا مَنْظَرًا أَعْجَبَ مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“ Tidaklah kami melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
Dalam riwayat yang lain disebutkan :
كَأَنَّهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ
“ Seakan-akan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah potongan bulan purnama”
Dan dalam riwayat yang lain disebutkan :
كَأَنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ تَدُوْرَانِ فِيْ وَجْهِهِ
“ Seakan-akan matahari dan bulan beredar di wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”
Wajah terindah yang dicipta oleh Allah subhanahu wata’ala, makhluk yang paling ramah dan paling baik kepada semua teman, dan berakhlak luhur kepada semua musuhnya. Disebutkan dalam sebuah riwayat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dijamu dengan makanan oleh orang-orang Yahudi, maka nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi jamuan tersebut dimana makanan itu telah dibubuhi racun, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulurkan tangan pada makanan tersebut, maka makanan yang sudah dimasak itu berbicara dengan berkata : “Wahai Rasulullah , jangan engkau memakanku karena aku telah diberi racun”, maka Rasulullah shallallahu menarik kembali tangan beliau dan melarang para shahabat untuk memakannya, namun sebagian dari para sahabat ada yang telah memakannya sehingga mereka pun meninggal.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk mencari dan orang yang telah membubuhi racun pada makanan tersebut, maka tertangkaplah seorang wanita Yahudi yang telah meracuni makanan-makanan tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya : “Mengapa engkau meracuni makanan-makanan ini?”, wanita Yahudi itu menjawab : “Karena aku ingin bukti bahwa engkau adalah benar sebagai Rasulullah, sebab jika engkau hanyalah sekedar mengaku-ngaku sebagai Rasulullah maka engkau pasti akan memakan makanan itu sehingga engkau akan meninggal, namun jika engkau adalah benar seorang nabi maka engkau tidak akan memakan makanan yang beracun itu, dan ternyata engkau tidak memakannya maka sungguh engkau adalah benar-benar nabi”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Bebaskanlah wanita itu”, sehingga beliau tidak menghukum wanita itu justru membebaskannya, adakah akhlak yang lebih mulia dari akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?!.
Hal ini juga membuktikan bahwa makanan tersebut mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian rahasia budi pekerti terindah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana sulit untuk kita temui di barat dan timur serta sulit untuk kita ketahui kecuali dengan mempelajarinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dimuliakan Allah subhanahu wata’ala begitu juga orang-orang yang mencintainya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana hadits yang telah disebutkan. Dan kita berada di majelis ini, telah berapa kali kita bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga diantara shalawat itu ada yang menjadi penghapus atas dosa-dosa kita, dan orang-orang yang berkumpul di tempat ini kesemuanya adalah orang-orang yang mencintai dan rindu kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yan teriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir oleh Al Imam At Thabrani Ar:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ بَلَغَتْنِيْ صَلاَتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ
“ Barangsiapa yang bershalawat untukku maka shalawat itu akan sampai kepadaku, dan aku bershalawat untuknya, dan selain itu dituliskan baginya sepuluh kebaikan”
Demikian rahasia kemuliaan bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hadits yang menjelaskan tentang kemuliaan shalawat sangatlah banyak. Dan pembahasan kita dalam kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah masih sampai dalam pembahasan kalimat وَصَلَّى اللهُ “ Washalla Allahu”. Malam Selasa yang akan datang insyaallah akan kita lanjutkan kembali pembahasan tentang makna shalawat ini, dan masih banyak penjelasan akan hal ini dimana sebagai penyemangat dan kabar gembira untuk orang-orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun sebenarnya telah cukup bagi kita untuk memahami kemuliaan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan firman Allah subhanahu wata’ala :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( الأحزاب : 56 )
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )
Namun karena masih dangkalnya keilmuan kita, sehingga kita masih perlu untuk mengorek lagi lebih dalam makna-makna dan kemuliaan dari shalawat ini, yang insyaallah akan kita lanjutkan di majelis yang akan datang. Dan di malam ini setelah kita bershalawat dan bersalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita akan melakukan shalat ghaib untuk syarifah Nur binti Ali Al Haddad yang wafat di Singapura, dan untuk saudari Aminah binti Amir dari Papua, yang akan dipimpin oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Atthas dan sekaligus doa penutup.

Makna Kalimat سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Monday, 01 April 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian XIII
Makna Kalimat سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Senin, 25 Maret 2013


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ يَشْتُمُوْنَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُوْنَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ ( صحيح البخاري)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ.
Limpahan puji kehadirat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling diagungkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan semua makhluk kecuali oleh para penduduk neraka, makhluk yang akan tinggal di surga dan tidak satupun dari penduduk surga kecuali memuliakan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, habibuna Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , maka runtuhkanlah seluruh keinginan yang hina demi mendapatkan keinginan yang luhur untuk bersama kelompok para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Kita telah membaca hadits dari riwayat Shahih Al Bukhari, dimana para kuffar quraisy karena marahnya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak lagi menamakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Muhammad (yang selalu dipuji) akan tetapi menamakannya Mudzammam (yang selalu dicaci), mereka kuffar quraisy tidak mau mengucapkan nama Muhammad, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat : “Kalian melihat mereka (kuffar quraisy) mencaci dan melaknat Mudzammam (orang yang dicela), sedangkan aku adalah Muhammad (orang yang dipuji)”. Allah subhanahu wata’ala Yang memberi nama beliau Muhammad (orang yang dipuji), sehingga orang yang tidak mau memuji beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia telah bertentangan dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala Yang telah memberi nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Muhammad (yang banyak dipuji). Mengapa orang-orang tidak mau banyak memuji nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah karena hal itu adalah kultus, atau kesyirikan kah?!, padahal Allah lah Yang telah memberinya nama Muhammad (orang yang banyak puji). Sehingga dengan ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu patahlah ucapan orang quraisy yang telah menamakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Mudzammam, sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Muhammad.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Dalam pembahasan kitab Ar Risalah Al Jami’ah kali ini kita akan membahas kalimat :
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Kalimat وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا telah kita bahas di majelis yang lalu, dan malam ini kita akan membahas kalimat محمد . Terdapat pertanyaan apakah kata سيدنا boleh diucapkan disaat membaca doa tasyahhud dalam shalat, dimana selain dalam doa tasyahhud hal itu boleh-boleh saja, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (melakukan) shalat”.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam disaat tasyahhud tidak menamakan dirinya “Sayyidina Muhammad”, maka bolehkah kita menambahi kata “Sayyidina” dengan dasar sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ini yang memmerintah kita untuk melakukan shalat sebagaimana beliau melakukan shalat, maka hal ini tentunya boleh karena hal itu tidak merubah makna, bahkan hal itu lebih lagi mengangkat kemuliaan dan derajat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di hati kita. Begitu juga dalam bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hal yang diperbolehkan untuk kita menambahkan kalimat “sayyidina”, seperti :
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّد
Maka hal yang demikian diperbolehkan, dan juga dikarenakan tidak semua para sahabat membaca bacaan yang sama seperti bacaan-bacaan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ucapkan. Oleh sebab itu ada para sahabat yang membaca bacaan tidak seperti apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ketika getaran kerinduan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terkendali. Adapun para sahabat seperti sayyidina Ali bin Abi Thalib, sayyidina Abdullah bin Abbas dan sahabat-sahabat yang lainnya mereka tetap dapat menahan diri dari kerinduan dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka tetap kuat hatinya untuk mengucapkan kalimat :
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
“ Salam sejahtera atasmu wahai nabi dan limpahan rahmat dan keberkahan”
Sedangkan diantara para sahabat ada tidak mampu untuk mengucapkan kalimat tersebut sehingga diantara mereka terjatuh pingsan ketika membaca kalimat, karena teringat sang kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka diberi keringan dan tentunya dengan adanya udzur untuk mengatakan :
السَّلاَمُ عَلَيْهِ
“ Salam sejahtera atasnya”
Sehingga jika disebabkan karena ingin memuliakan dan mengagungkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka diperbolehkan untuk menambahkan kalimat “Sayyidina” atau “Maulana” untuk memanggil nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Terdapat ribuan bentuk shalawat yang menggunakan lafadz “Sayyidina”, bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menamakan dirinya “Sayyid”, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَاَ فَخْرَ
“ Aku adalah pemimpin anak Adam dan tanpa ada kebanggaan (kesombongan)” Dan dalam riwayat yang lain beliau bersabda :
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“ Aku adalah pemimpin manusia di hari kiamat”
Kata “Sayyid” tidak hanya khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam namun kata itu bisa untuk siapa saja, namun ketika kita mengucapkan kalimat “ Sayyidina wa Maulana Muhammad”, maka maksud kalimat itu tidak ada yang lain kecuali nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian jumlah nama nabi Muhamamd shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak, hingga mencapai lebih dari 100 nama, dimana dari semua huruf hijaiyah terdapat nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai contoh huruf alif ( أ ) yaitu أمين : Amiin (yang dipercaya), diman beliau shallallahu ‘alaihi wasallam digelari dengan Al Amiin, sehingga kuffar quraisy yang selalu memusuhi beliau shallallhu ‘alaihi wasallam mereka masih mempercayai beliau dan tetap menitipkan barang-barang berharga mereka kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam padahal mereka memusuhi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan selalu berusaha untuk membunuh beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, namun karena ketika itu di Makkah tidak ada orang yang dapat lebih dipercaya dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam akan hijrah, beliau tidak meninggalkan begitu saja barang-barang kuffar quraisy yang dititipkan kepada beliau, namun barang-barang tersebut diserahkan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk dikembalikan kepada pemiliknya para kuffar quraisy, dengan berkata : “Wahai Ali kembalikanlah barang-barang ini kepada pemiliknya, karena mereka telah menitipkannya kepadaku, barang ini milik si fulan, barang ini milik si fulan ”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak lupa akan amanah yang dititipkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, demikianlah akhlak luhur beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang diberi julukan “Al Amiin”.
Kemudian huruf Ba’ ( ب ) yang diantaranya adalah بسام : Bassaam ( yang banyak tersenyum), huruf Ta’ ( ت ) yaitu تقي : Taqiiy (yang bertaqwa), huruf Tsaa’ (ث) yaitu ثابت : Tsaabit ( orang yang tegar atau teguh ), sebagaimana ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diminta utnuk berhenti berdakwah dan meninggalkan agamanya, maka beliau berkata dengan tegas : “Jika seandainya kalian letakkan bulan di tangan kananku dan matahari di tangan kiriku, agar aku meninggalkan dakwah ini, sungguh aku tidak akan melakukannya”, atau ثبات : Tsabbaat (yang memperkuat orang lain baik di dunia atau di akhirat), sehingga orang yang banyak bershalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan dikuatkan dan diteguhkan dalam melawan dan menghindari perbuatan maksiat.
Kemudian huruf Jim (ج) yaitu جميل : Jamiil atau جمال : Jamaal (yang indah/ keindahan), kemudian huruf Haa’ (ح) yaitu حليم : Haliim (yang berlemah lembut dan memaafkan), huruf Khaa’ (خ) yaitu خبير : Khabiir (yang banyak memberi kabar), sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam banyak memberi kabar kepada kita akan kabar-kabar yang dikabarkan oleh Allah kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap rasul adalah Khabiir demikian juga para ulama’ dan para shalihin dimana mereka juga menyampaikan kabar-kabar mulia. Kemudian huruf Daal (د) yaitu داع : Daa’i (yang mengajak), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin para Daa’i. Kemudian huruf Dzaal (ذ) yaitu ذكي : Dzakiy ( orang yang cerdas). Kemudian huruf Raa’ (ر) yaitu رحمة (kasih sayang), huruf zaay (ز) yaitu زكي : Zakiy (orang yang suci). Dan huruf Siin (س) yang salah satunya adalah سيد : Sayyid (pemimpin), lalu huruf Syiin (ش ) yaitu شكور : Syakuur (yang banyak bersyukur), serta شافع : Syaafi’ (yang memberi syafaat), demikian indahnya nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam sehingga dari semua huruf hijaiyyah terdapat nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada nama makhluk yang lebih banyak di alam semesta ini daripada nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, nama makhluk yang paling dahulu adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan nama mahkluk yang akan membuka surga adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rahasia kebenaran yang dilimpahkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada kita melalui nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan limpahan rahmat yang besar bagi kita, sehingga dengan mengenal nama-nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kita dapat memberi nama sendiri untuk nama anak-anak kita, jika kita merasa kesulitan untuk memintakan nama mereka kepada para ulama’. Inilah rahasia kelembutan Allah subhanahu wata’ala yang terwariskan kepada orang yang memberikan namanya dengan nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana perintah beliau dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam :
سَمُّوْا بِاسْمِيْ
“ Berilah nama dengan namaku”
Hadirin yang dimuliakan Allah, Penjelasan akan nama-nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diawali dengan huruf-huruf hijaiyah insyaallah akan kita lanjutkan pada majelis yang akan datang. Dan malam ini kita akan melakukan shalat ghaib yang akan dipimpin oleh Al Habib Hud untuk Al Marhum As Syahid As Syaikh Said Ramadhan Al Buthi yang wafat karena di bom di saat beliau mengajar di masjid. Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah mengabulkan segala hajat-hajat kita di dunia dan akhirat, amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Makna Kalimat سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Monday, 15 April 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian XV
Makna Kalimat سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Senin, 15 April 2013


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ لِي أَسْمَاءَ أنَا مُحمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ ، وَ أَنَا الْمَاحِي الَّذِيْ يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الكُفرَ ، وأنا الحَاشِرُ الَّذي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِيْ ، وأنَا العَاقِبُ. (صحيح البخاري)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha melimpahkan keluhuran dan kemuliaan, yang kesemua kenikmatan, keagungan, kesucian dan kebahagiaan dunia dan akhirat berpadu pada rahmat Allah subhanahu wata’ala, dimana rahmat Allah subhanahu wata’ala begitu banyak dan tidak terhitung, dan rahmat yang terbesar adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Di malam hari ini kita dalam pembahasan luhur, dimana kita masih akan membahas tentang nama-nama sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang telah kita baca riwayat Shahih Al Bukhari ; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki banyak nama, yang diantaranya adalah Muhammad, Ahmad, dan Al Maahi yang bermakna yang menghapus (kekufuran), dimana kekufuran terhapus dan sirna dengan dibangkitkannya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi. Adapun makna kufur adalah menolak atau berpaling dan melepaskan diri dari tuntunan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Dan perbuatan-perbuatan yang mengandung kekufuran sering diperbuat oleh kaum muslimin sekalipun, namun perbuatan tersebut tidak menjadikan mereka keluar dari Islam, akan tetapi hal tersebut merupakan dosa besar. Adapun diantara tuntunan luhur itu seperti shalat 5 waktu, berbakti kepada kedua orang tua dan lainnya, maka benahilah hal-hal tersebut dalam kehidupan kita di dunia, dimana setiap detik yang telah berlalu tidak akan pernah terulang kembali selama-lamanya, sehingga renungan-renungan di dalam kehidupan sangatlah penting, yaitu renungan untuk mencari jalan menuju keselamatan dari samudera kegelapan, kehinaan, kesusahan dan rintangan-rintangan dalam kehidupan, maka temuilah dan ikutilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Samudera rahmat Allah subhanahu wata’ala yang berpijar cahayanya memenuhi jiwa seseorang dan mengangkat derajatanya dari sehina-hina kedudukan menuju pada kedudukan yang sangat mulia. Maka barangsiapa berpaling dari tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana tuntunan beliau senantiasa mengajak kita untuk megingat Allah subhanahu wata’ala, mengajak kita untuk lebih mengenal dan mencintai Allah subhanahu wata’ala, mengajak kita untuk disayangi Allah subhanahu wata’ala dan dimuliakan Allah subhanahu wata’ala di dunia dan akhirat.
Hadirin yang dimuliakan Allah Sebagian dari nama-nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagian telah kita bahas pada majelis-majelis yang lalu. Disebutkan oleh Al Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim bahwa nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berjumlah 1000 nama, maka dalam setiap huruf hijaiyyah terdapat lebih dari 30 nama.
Di majelis yang lalu dalam pembahasan tentang nama-nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kita sampai pada huruf ‘Ain (ع), yang diantara nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah عزيز : ‘Aziiz, yang memiliki makna luas, dimana jika dinisbatkan pada dzat Allah subhanahu wata’ala maka nama العزيز : Al ‘Aziiz bermakna Yang Maha Berwibawa, namun jika dinisbatkan kepada makhluk maka bermakna orang yang berwibawa dan tidak membutuhkan bantuan makhluk yang lainnya, serta yang tidak mau memberatkan orang lain. Dan makhluk yang paling berwibawa adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beruntunglah orang yang banyak bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan kerugian besar bagi yang tidak mau bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallm.
Dalam hadits yang tadi kita baca, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany menjelaskan di dalam Fath Al Baari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa kalimat الماحي : Al Maahi yang dimaksud adalah yang menghapus kekufuran atau yang menghapus dosa-dosa dengan hak syafaat yang pertama kali diberikan Allah subhanahu wata’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tumbuhkanlah cinta kepada sang nabi di hati kita maka akan sirna sifat-sifat yang hina dari hati kita seperti sifat dusta, iri , sombong riya dan lainnya, ketika cahaya cinta kepada sang nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam terbit di dalam jiwa kita maka akan muncul sifat-sifat luhur di dalam jiwa, sehingga terkadang tanpa disadari kita menyukai suatu perbuatan, yang ternyata hal tersebut adalah perbuatan yang juga disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian Allah subhanahu wata’ala menerangi jiwa hamba-hambaNya dengan cahaya akhlak-akhlak luhur dan mulia lahir dan bathin yang membawa pada kebahagiaan di dunia dan akhirat, kemudahan di dunia dan akhirat, keluhuran di dunia dan akhirat, kesucian di dunia dan akhirat, karena kesemua itu dibawa oleh sang pemimpin makhluk di dunia dan akhirat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala mengumpulkan manusia dibelakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan di dalam Fath Al Bari bisyarh Shahih Al Bukhari makna kalimat “ Anaa Al Haasyir ; Aku yang mengumpulkan”, adalah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang pertama dibangkitkan oleh Allah subhanahu wata’ala kemudian semua manusia dibangkitkan dan dikumpulkan di belakang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam makna yang lain yaitu bahwa semua manusia dikumpulkan di bawah telapak kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan seseorang yang memulikan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia juga memuliakan Allah subhanahu wata’ala, sebaliknya dengan memuliakan orang-orang yang hina dan selalu melakukan perbuatan maksiat maka ia telah memuliakan syaitan. Maka selayaknyalah bagi kita untuk memuliakan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan semoga bumi Jakarta ini menjadi pelopor dalam memulikan dan mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana hal tersebut adalah obat yang paling mujarab untuk mengobati kerusakan yang menimpa generasi muda dan generasi yang akan datang jika mereka mengidolakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan terbit dalam jiwa mereka cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling ramah, cobalah sesekali kita renungkan dihadapan kita ada seorang yang paling ramah, paling baik, paling dermawan, dan paling pemaaf dari seluruh makhluk Allah subhanahu wata’ala, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa tidak ada seorang pun orang yang paling banyak tersenyum dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sekalipun terhadap seseorang berbuat jahat, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tetap akan tersenyum kepadanya, dan semakin seseorang berbuat zhalim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau semakin berlemah lembut kepadanya, demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari huruf Ghain (غ) diantaranya adalah غالب : Ghaalib (yang menang), sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ( المائدة : 56 )
“ Dan barang siapa menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (kelompok) Allah itulah yang pasti menang”. (QS. Al Maaidah : 56 )
Adapun pemimpin orang-orang yang menang adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kemenangan tersebut adalah kemenangan di dunia dan di akhirat. Yang mana jika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mundur atau tidak melawan terhadap musuh, hal tersebut adalah karena kesabaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bukan karena beliau merasa takut atau lemah, karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang terkuat dari seluruh makhluk Allah subhanahu wata’ala. Dimana tidak ada satu makhluk pun yang mampu berhadapan dengan dzat Allah subhanahu wata’ala kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana nabi Musa As yang memohon untuk melihat Allah subhanahu wata’ala, dalam firman Allah subhanahu wata’ala :
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ ( الأعراف : 143 )
“Dan ketika Musa datang untuk (munajat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, Musa berkata : "Ya Tuhanku, nampakkanlah (dzat-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu". Tuhan berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah gunung itu, jika ia tetap di tempatnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku". Ketika Tuhannya menampakkan (keagungan dzat-Nya) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur lebur dan Musa pun terjatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman". ( Al A’raaf : 143 )
Dalam tafsir yang lainnya disebutkan bahwa gunung itu terpendam ke dalam bumi dan tidak akan pernah lagi muncul hingga hari kiamat, ketika satu tabir kewibawaan Allah subhanahu wata’ala disingkap, karena takutnya dari kewibawaan Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana dijelaskan di dalam tafsir Al Imam Qurthubi dan tafsir lainnya bahwa Allah subhanahu wata’ala mempunyai 70 tabir yang mengahalangi pandangan makhluk, dan ketika satu tabir kewibawaan tersingkap maka gunung itu pun hancur lebur dari takutnya terhadap kewibaan Allah subhanahu wata’ala. Namun 70 tabir itu tersingkap untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Akan datang waktunya hari perkumpulan di padang mahsyar dimana ketika itu matahari berada sejengkal di atas kepala namun tidak lagi memancarkan cahaya, sehingga keadaan padang mahsyar gelap gulita namun cahaya (keadilan) Allah subhanahu wata’ala menerangi bumi, sebagaimana firman-Nya subhanahu wata’ala : “ Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya”. ( QS. Az Zumar : 69 ) Dan keadaan manusia di saat itu ada diantara mereka yang dibutakan pandangannya oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga tidak dapat memandang Allah subhanahu wata’ala karena selama hidup di dunia ia berpaling dari dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (طه : 124 )
“Dan barang siapa berpaling dari mengingat-Ku (peringatan Allah) , maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". ( QS. Thaaha : 124 )
Demikianlah keadaan orang-orang yang terlewatkan kehidupannya bertahun-tahun namun tidak pernah mengingat Allah dan tidak pernah merindukan Allah subhanahu wata’ala, dan tidak pernah terfikirkan olehnya bahwa suatu saat akan dipanggil namanya untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala, Allah subhanahu wata’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (الإنفطار : 6 )
“ Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. ( QS. Al Infithaar : 6 )
Sungguh tidak ada yang lebih Pemurah kepada kita dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana seleuruh anggota tubuh kita ini tidak ada seorang pun yang mampu memberinya kepada kita. Dan Allah Maha Memberi sebelum diminta, berapa banyak hajat yang diberi oleh Allah sebelum diminta oleh seorang hamba, Dia lah Yang Maha Dermawan yang anugerahnya tiada henti-hentinya mengalir kepada hamba-hambaNya. Dan dalam hadits di atas disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al ‘Aqib yang diantara maknanya adalah bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi yang terakhir.
Selanjutnya nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diawali dengan huruf Fa’ (ف) adalah فاضل : Faadhil (orang yang mulia), kemudian nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diawali dengan huruf Qaf (ق) diantaranya adalah ق : Qaaf atau قوي : Qawii (orang yang kuat), sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang kuat. Disebutkan bahwa dahulu di kota Makkah ada seorang yang sangat kuat dan jago berkelahi serta tidak dapat terkalahkan, ia bernama Rukana, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya : “Wahai Rukana, aku akan menjatuhkanmu (mengalahkanmu), maukah engkau beriman setelah itu”, maka lelaki itu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ engkau hendak mengalahkan aku?!, sedangkan engkau adalah seorang yang tidak pernah beradu dengan yang lain”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulang kembali perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, namun Rukana tidak menjawabnya dan langsung ia menyerang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas lelaki itu pun terjatuh. Kemudian Rukana kembali bangkit dan meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengulanginya lagi, maka Rukana kembali menyerang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kembali dijatuhkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Rukana meminta kesempatan satu kali lagi untuk melawan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali berkata : “jika engkau kujatuhkan apakah engkau akan beriman”, maka Rukana tidak menjawab namun langsung menyerang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan serangan yang sangat kuat, akan tetapi Rukana kembali dijatuhkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih kuat lagi sehingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri namun tetap rebah dan pasrah atas permintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berlemah lembut namun Allah subhanahu wata’ala memberi kekuatan lebih kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana kekuatan yang lebih itu tidak diberikan kepada makhluk selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan huruf Kaf (ك) diantara nama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah كريم : Kariim (orang yanga dermawan), dimana tidak ada yang lebih dermawan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali sang pencipta Allah subhanahu wata’ala. Dan huruf Lam (ل) yang mana salah satu diantaranya adalah لطيف : Lathiif (yang berlemah lembut), dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menangis ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat Al qur’an yang menyebutkan bahwa nabi Musa As berlepas diri dari ummatnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ( المائدة : 118 )
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. ( QS. Al Maaidah : 118)
Kemudian malaikat Jibril mendatangai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “wahai Muhammad, apa yang membuatmu menangis?”. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjwab : “Aku tidak dapat berlepas diri dari ummatku yang berbuat dosa, sebagiamana nabi Musa yang berlepas diri dari ummatnya yang tidak beriman”.
Adakah idola yang lebih pantas untuk menerangi jiwamu melebihi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mencintai kita yang sebagai ummatnya, baik yang sudah berjumpa atau belum berjumpa dengan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena semua ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kelak akan masuk ke dalam surga dengan syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau dengan syafaat yang telah dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh merugilah orang yang masuk ke dalam surga dengan melewati siksa kubur terlebih dahulu. Kemudian huruf Mim (م) adalah محمد : Muhammad (yang banyak dipuji). Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah subhanahu wata’ala mengabulkan hajat-hajat kita di dunia dan akhirat, dan menjauhkan kita dari segala musibah zhahir dan bathin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
 
Blogger Templates